Bupati Bungo H. Dedy Putra menyampaikan duka cita atas berpulangnya mantan bupati dua periode tersebut. Ia menyebut Zulfikar sebagai orang tua, guru, sekaligus pendahulu yang memiliki peran dalam perjalanan pembangunan daerah.
“Almarhum bukan hanya sekadar pemimpin, tetapi inspirator dan peletak pondasi penting pembangunan di Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun. Karya, gagasan, dan perjuangan beliau akan selalu hidup dan tercatat dalam sejarah Kabupaten Bungo,” ujar Dedy Putra.
DPR RI juga menyampaikan belasungkawa melalui keterangan resminya. Lembaga tersebut mengenang dedikasi dan pengabdian Zulfikar selama menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.
Kini, perjalanan panjang itu telah sampai di penghujungnya. Dari dunia usaha, pemerintahan Kabupaten Bungo, hingga kursi parlemen, Zulfikar meninggalkan jejak pengabdian yang akan terus dikenang.
Bagi Mukhtadi Putranusa, kenangan tentang Zulfikar bukan hanya tentang seorang pejabat yang pernah memimpin daerah. Ia mengingat seorang pemimpin bertopi koboi yang lebih suka turun ke lapangan daripada berdiam di balik meja.
Topi koboi itu mungkin tak lagi terlihat menyusuri jalan-jalan Muara Bungo. Suara tegasnya pun tak lagi terdengar dalam percakapan pembangunan daerah.
Namun, bagi orang-orang yang pernah mengenalnya, sosok Datuk Zulfikar Achmad akan tetap hidup dalam cerita dan kenangan.
Selamat jalan, Datuk.











