TANJUNG JABUNG BARAT, Bungotv.co – Cuaca panas yang melanda Kabupaten Tanjung Jabung Barat dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menyikapi kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjab Barat mengintensifkan langkah pencegahan dan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Minimnya curah hujan membuat sejumlah wilayah di Tanjab Barat semakin kering dan rentan mengalami kebakaran lahan. Berdasarkan data BPBD Tanjab Barat, sepanjang tahun 2026 terdeteksi sebanyak 311 titik panas (hotspot).
Kecamatan Betara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 178 titik panas. Sementara itu, Kecamatan Bram Itam mencatat 67 hotspot, dan Kecamatan Batang Asam sebanyak 40 hotspot.
Ketiga kecamatan tersebut dinilai sebagai daerah yang paling rawan mengalami karhutla selama musim kemarau berlangsung.
Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran, BPBD Tanjab Barat terus berkoordinasi dengan BMKG Provinsi Jambi, BPBD Provinsi Jambi, dan instansi terkait lainnya.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan. Program tersebut telah berjalan sejak pertengahan Mei dan dijadwalkan berlangsung hingga 12 Juni 2026.
Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Tanjab Barat, Samsuhadi, mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar karena dapat memicu kebakaran yang meluas.
Menurut Samsuhadi, pencegahan karhutla membutuhkan peran aktif seluruh masyarakat. Membuka lahan tanpa membakar dinilai menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko kebakaran yang dapat merusak lingkungan serta mengganggu kesehatan masyarakat.
BPBD Tanjab Barat juga telah menyiapkan berbagai sarana dan prasarana penanganan karhutla. Fasilitas tersebut meliputi armada pemadam kebakaran dan pemanfaatan Embung Muntialo sebagai sumber air untuk mendukung proses pemadaman apabila terjadi kebakaran.
Penulis: Ardyan Saputra









