Home / Budaya / Kerinci

Rabu, 8 Juli 2026 - 12:01 WIB

Mengenal Kenduri Sko, Tradisi Adat Kerinci dalam Merawat Pusaka

Kenduri Sko menjadi ajang untuk membersihkan dan merawat benda pusaka seperti pakaian adat, keris, senjata tradisional, hingga naskah kuno yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kerinci.

Kenduri Sko menjadi ajang untuk membersihkan dan merawat benda pusaka seperti pakaian adat, keris, senjata tradisional, hingga naskah kuno yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kerinci.

Kerinci – Kenduri Sko merupakan salah satu tradisi adat masyarakat Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, yang telah diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen sekaligus momentum untuk menjaga warisan budaya dan benda-benda pusaka peninggalan leluhur.

Dalam pelaksanaannya, Kenduri Sko menjadi ajang untuk membersihkan dan merawat benda pusaka seperti pakaian adat, keris, senjata tradisional, hingga naskah kuno yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kerinci.

Selain itu, tradisi ini juga menjadi momentum pengukuhan pemangku adat baru yang dikenal dengan sebutan Depati dan Ninik Mamak. Prosesi pengukuhan biasanya disertai penyampaian deto talitai atau pidato adat yang berisi nasihat, pesan moral, serta aturan kehidupan bermasyarakat.

Apa Itu Kenduri Sko?

Mengutip jurnal Valuasi Ekonomi Kenduri Sko Masyarakat Kerinci Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi karya Asvic Helida dan sejumlah peneliti, Kenduri Sko merupakan salah satu perayaan adat terbesar masyarakat Kerinci yang telah berlangsung sejak lama.

Tradisi ini tidak hanya bertujuan mengganti pemimpin adat yang lama, tetapi juga menjadi bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keberhasilan hasil pertanian masyarakat.

Pelaksanaan Kenduri Sko membutuhkan persiapan besar. Masyarakat biasanya bergotong royong mengumpulkan biaya dan tenaga agar seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan baik.

Setiap unsur masyarakat memiliki peran masing-masing. Kaum perempuan bertugas menyiapkan berbagai hidangan tradisional untuk para tamu, kaum laki-laki mengatur rangkaian kegiatan adat, sementara generasi muda ikut memeriahkan acara melalui kesenian tradisional.

Syarat Menjadi Pemangku Adat

Dalam masyarakat Kerinci, seseorang yang akan menjadi pemangku adat harus memenuhi sejumlah kriteria yang telah disepakati melalui musyawarah adat.

1. Memiliki Garis Keturunan Adat

Calon pemangku adat umumnya berasal dari garis keturunan keluarga yang memiliki hak adat secara turun-temurun. Dalam sistem adat Kerinci, garis keturunan banyak ditentukan melalui pihak ibu.

Baco Jugo :   Libur Lebaran, Wisata Ayi Tafsut Kerinci Diserbu Pengunjung
2. Memiliki Akhlak dan Kepribadian Baik

Seorang pemangku adat harus memiliki sikap bijaksana, bertanggung jawab, mampu menjadi teladan, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

3. Memahami Adat dan Norma Masyarakat

Pemangku adat harus memahami hukum adat, aturan kehidupan bermasyarakat, serta nilai-nilai budaya yang berkembang di Kerinci.

4. Memiliki Peran di Tengah Masyarakat

Calon pemangku adat dipilih berdasarkan hasil musyawarah. Mereka biasanya merupakan tokoh yang memiliki kontribusi dalam pembangunan maupun penyelesaian persoalan masyarakat adat.

Tahapan Prosesi Kenduri Sko

Pelaksanaan Kenduri Sko memiliki beberapa tahapan utama, mulai dari musyawarah adat hingga acara makan bersama sebagai bentuk rasa syukur.

1. Musyawarah Adat

Tahap awal dilakukan melalui pertemuan antara tokoh adat dan masyarakat untuk menentukan waktu pelaksanaan Kenduri Sko, memilih calon pemangku adat, serta membahas berbagai hal berkaitan dengan kehidupan adat.

2. Nurun Sko atau Penurunan Pusaka

Pada tahap ini, benda-benda pusaka yang selama ini disimpan di rumah adat atau Umoh Gedang diturunkan untuk dibersihkan.

Pusaka tersebut kemudian dicuci menggunakan air limau dan disertai doa serta prosesi adat tertentu. Tidak semua orang diperbolehkan mengikuti proses ini karena terdapat aturan adat yang harus dipatuhi.

Setelah dibersihkan, benda pusaka kembali disimpan dalam tempat khusus yang dikenal sebagai pandan emas lubuk lembago.

3. Pengukuhan Pemangku Adat

Calon pemangku adat yang telah dipilih akan dikukuhkan sebagai Depati atau Ninik Mamak. Dalam prosesi ini, mereka mengenakan pakaian adat berwarna hitam dengan sulaman kuning yang melambangkan kewibawaan, kekuasaan adat, dan kesejahteraan masyarakat.

Baco Jugo :   Penutupan MTQ ke-53 Provinsi Jambi, Ditutup Secara Resmi Oleh PJS Gubernur Jambi, Sudirman
4. Penyampaian Pidato Adat

Pemangku adat yang baru akan menyampaikan deto talitai atau pidato adat yang berisi petuah, nasihat, serta pesan kepada masyarakat.

5. Sumpah Adat

Pemangku adat yang baru kemudian mengucapkan sumpah adat sebagai bentuk komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah masyarakat.

6. Kenduri atau Makan Bersama

Rangkaian acara ditutup dengan makan bersama. Hidangan yang telah disiapkan masyarakat menjadi simbol rasa syukur, kebersamaan, dan kekuatan hubungan sosial antarwarga.

Kapan Kenduri Sko Dilaksanakan?

Kenduri Sko umumnya dilaksanakan dalam rentang waktu lima hingga sepuluh tahun sekali. Namun, pelaksanaannya dapat berbeda di setiap wilayah adat Kerinci.

Beberapa daerah ada yang melaksanakan tradisi ini lebih sering, terutama untuk kegiatan pembersihan pusaka, pemberian gelar adat, maupun sebagai bentuk syukur atas hasil panen.

Upaya Melestarikan Kenduri Sko

Keberadaan Kenduri Sko saat ini menghadapi tantangan akibat perubahan pola pikir generasi muda serta berkurangnya proses pewarisan pengetahuan adat.

Berdasarkan jurnal Analisis Eksistensi Tradisi Kenduri Sko Pada Masyarakat Adat Desa Siulak Gedang Kabupaten Kerinci karya Novi Erdila, salah satu faktor yang menyebabkan tradisi ini mulai berkurang adalah minimnya regenerasi pemahaman adat di kalangan generasi muda.

Namun, kesadaran masyarakat dan tokoh adat untuk menjaga warisan budaya ini terus tumbuh. Berbagai upaya dilakukan agar Kenduri Sko tetap menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Kerinci.

Pada akhirnya, Kenduri Sko bukan hanya sebuah ritual adat, tetapi juga menjadi simbol persatuan, penghormatan terhadap leluhur, regenerasi pemimpin adat, serta wujud rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa. (*)

Share :

Baca Juga

Kerinci

Gubernur Al Haris Letakkan Batu Pertama Pembangunan RSUD Bukit Tengah Kerinci

Budaya

Kadis Kominfo Wakili Gubernur Jambi Hadiri Perhelatan Hoyak Tabuik di Pantai Gandoriah

Budaya

Gubernur Al Haris Buka Pekan Kebudayaan Daerah Jambi Elok Nian

Hukum

Polisi Lumpuhkan Residivis Curanmor yang Coba Kabur Saat Dibawa ke Polres Kerinci

Hukum

Polres Kerinci Amankan Residivis Curanmor, Pelaku Dihadiahi Timah Panas Karena Melawan Petugas

Kerinci

35 Ribu Warga Kerinci dan Sungai Penuh Terima Bantuan Pangan

Kerinci

Bupati Monadi Buka Jambore Gerakan Pramuka Kerinci 2026

Kerinci

Tanam Padi Serentak, Bupati Kerinci Monadi Dorong Peningkatan Produksi Pertanian