Muara Bungo, Bungotv.co – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai terasa terhadap kesehatan masyarakat Kabupaten Bungo. Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tercatat mengalami peningkatan dalam beberapa bulan terakhir.
Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo mencatat, hingga 8 September 2026, jumlah kasus ISPA telah mencapai 793 kasus. Data tersebut dihimpun dari sejumlah fasilitas pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Bungo.
Lonjakan kasus ini menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik akibat kabut asap karhutla.
Anak dan Lansia Jadi Perhatian
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo dr. Safaruddin Matondang mengatakan kelompok masyarakat tertentu memiliki risiko lebih tinggi terdampak gangguan pernapasan.
“Anak-anak dan lanjut usia (lansia), khususnya mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti asma, menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan secara mandiri.
Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kondisi udara memburuk. Masyarakat juga dianjurkan menjaga asupan makanan bergizi dan mengonsumsi buah-buahan segar untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
Bagi warga yang mulai mengalami gejala seperti batuk atau gangguan pernapasan, Dinkes mengingatkan agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Masker Gratis Disiapkan
Pemerintah Kabupaten Bungo juga menyiapkan langkah pencegahan untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Pemkab Bungo bersama lintas elemen, termasuk TP-PKK dan tim kesehatan, berencana turun langsung membagikan masker secara gratis kepada masyarakat.
Selain pembagian masker, perkembangan kondisi kesehatan masyarakat dan kualitas udara juga akan terus dipantau.
Pemerintah daerah turut menyiapkan evaluasi teknis apabila jumlah penderita ISPA terus mengalami peningkatan. Salah satu langkah yang dikaji adalah penyesuaian kegiatan belajar mengajar di sekolah apabila kondisi udara maupun kasus gangguan pernapasan semakin memburuk.
Langkah tersebut diharapkan dapat menekan risiko paparan asap, terutama terhadap kelompok rentan, sekaligus memastikan penanganan dampak kesehatan akibat karhutla dapat dilakukan lebih cepat.
Reporter: Agustian









