JAKARTA, Bungotv.co – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah kurs dolar Amerika Serikat (AS) menyentuh Rp18.132 per dolar AS berdasarkan data konversi Google Finance yang mengacu pada Morningstar, Senin (8/6).
Dalam satu bulan terakhir, pergerakan kurs menunjukkan tren pelemahan. Rupiah bergerak dari kisaran Rp17.300 hingga Rp17.500 per dolar AS pada awal Mei, lalu terus melemah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS.
Pelaku pasar menilai sejumlah faktor global masih memberi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Kebijakan suku bunga tinggi yang masih diterapkan Amerika Serikat mendorong penguatan dolar AS di pasar internasional.
Kondisi tersebut membuat banyak investor mengalihkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman dan menawarkan imbal hasil lebih tinggi. Sejumlah laporan pasar juga mencatat arus modal keluar dari negara berkembang ikut menekan mata uang di kawasan Asia.
Di dalam negeri, meningkatnya kebutuhan valuta asing turut memengaruhi pergerakan rupiah. Permintaan dolar untuk kegiatan impor, pembayaran utang luar negeri, dan kebutuhan investasi menambah tekanan terhadap nilai tukar.
Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui berbagai instrumen moneter. Otoritas moneter juga terus mengoptimalkan operasi pasar guna menjaga likuiditas dan meredam gejolak yang berlebihan.
Pelemahan rupiah memberikan dampak yang berbeda bagi setiap sektor. Eksportir berpotensi memperoleh keuntungan dari kenaikan nilai penerimaan dolar. Sebaliknya, pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor harus menghadapi biaya yang lebih tinggi.
Meski menghadapi tekanan global, sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan kondisi yang cukup kuat. Inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai, dan pertumbuhan ekonomi yang tetap positif diharapkan dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian pasar global.
Sumber: Radar Surabaya









