Muara Bungo, Bungotv.co – Geliat persiapan menyambut Hari Raya Idul Fitri mulai dirasakan para perajin kue kering. Di Kabupaten Muara Bungo, Jambi, permintaan kue kering mengalami lonjakan signifikan hingga mencapai hampir satu per empat ton. Tak hanya melayani pasar lokal, pesanan bahkan datang dari luar provinsi.
Memasuki pekan terakhir Ramadan, rumah produksi kue kering di Muara Bungo ini tampak dipenuhi tumpukan kemasan yang siap diantar. Sang pemilik usaha mengungkapkan bahwa pada tahun ini dirinya menyediakan empat belas macam varian kue kering untuk memenuhi selera konsumen yang beragam.
Menu legendaris seperti nastar tetap menjadi primadona. Tahun ini, inovasi dilakukan dengan menghadirkan nastar pisang sebagai varian terbaru, bersanding dengan nastar gulung dan nastar klasik. Tak hanya itu, varian lain seperti coco caribe atau kue cokelat, serta kue skippy dan kue bangkit juga menjadi buruan para pelanggan.
Untuk menjaga kualitas, produsen menyediakan dua versi pilihan, yakni versi reguler dan versi premium yang menggunakan mentega Wijsman, sesuai dengan permintaan pelanggan yang menginginkan cita rasa lebih eksklusif.
”Kalau jenisnya itu 14 macam ya, ada nastar, nastar gulung, nastar pisang kalau tahun ini yang terbaru. Ini paling best seller nastar kita nih. Nastarnya ada dua versi, ada yang premium pakai Wisman juga, ada yang biasa. Selain nastar, ada juga namanya Coco Caribe, kue cokelat. Terus ada juga Skippy, Bangkit, itu juga paling best seller di sini,” ujar Ratih Arifin
Bicara soal angka, omzet penjualan tahun ini meningkat tajam dibandingkan tahun lalu. Jika tahun sebelumnya tercatat terjual sebanyak seribu dua ratus enam puluh kilogram, tahun ini angka tersebut melesat hingga mendekati seribu empat ratus kilogram, atau tepatnya di angka seribu tiga ratus sembilan puluh kilogram setelah dilakukan rekapitulasi.
Sistem penjualan yang berdasarkan pesanan ini tidak hanya menjangkau wilayah Muara Bungo saja. Pesanan mengalir deras dari wilayah Bangko, Jambi, bahkan hingga menyeberang ke Bukittinggi, Sumatera Barat.
Untuk harga, perajin mematok harga yang kompetitif, yakni di kisaran seratus empat puluh ribu hingga seratus lima puluh ribu rupiah per kilogramnya.
”Penjualan lebih meningkat tahun ini. Kalau tahun kemarin sekitar 1.260 kilo, sekarang hampir 1.400, 1.390-an lah setelah direkap. Pesanan macam-macam, ada yang ke Bangko, ke Jambi, sampai ke Bukit Tinggi. Range harganya dari 140 sampai 150 ribu per kilonya,” ujar Ratih Arifin
Lonjakan pesanan ini menjadi angin segar bagi pelaku UMKM di daerah setelah masa pandemi berlalu. Kenaikan produksi hingga ratusan kilogram ini pun diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Penulis: Ade.R.A, Bungotv.









